Tangis di Balik Dinding Musholla

Bagikan Keteman :



Di sore itu yang mestinya hening,
suara adzan Maghrib seakan terhenti di tengah udara,
ketika dinding yang pernah bersaksi pada sujud mereka
tiba-tiba runtuh,
menghimpit tubuh-tubuh suci
yang baru saja menghafal ayat cinta Tuhan.


Wahai anak-anak surga,
wahai santri-santri kecil penjaga kalam-Nya,
air mata kami tumpah bersama puing-puing yang berserakan,
namun kami tahu,
kalian tidak mati,
kalian hidup di taman-taman cahaya,
disambut oleh malaikat yang mencium kening kalian satu per satu.


Di hati para ibu,
ada lubang rindu yang tak akan pernah tertutup,
namun di langit,
ada senyum yang abadi —
senyum kalian, wahai syuhada kecil,
yang pergi dalam keadaan suci,
berpakaian iman,
berselimut doa.


Kami menangis bukan hanya karena kehilangan,
tapi karena menyadari kelalaian.
Bangunan roboh bukan karena takdir semata,
tapi karena manusia lupa berhati-hati dalam niat baiknya.
Lupa bahwa membangun rumah Allah
juga harus dengan ilmu, amanah, dan perhitungan.


Wahai para pemegang kebijakan,
jangan biarkan duka ini menjadi rutinitas berita,
jadikan ia peringatan!
Karena setiap bata yang longgar, setiap tembok yang retak,
bisa menjadi saksi kelalaian kita terhadap nyawa tak berdosa.
Bangunlah negeri ini dengan hati yang waspada,
dengan tangan yang bersih,
dan tanggung jawab yang nyata.


Wahai santri-santri kecil yang kini telah tenang,
tenanglah di sisi Tuhanmu,
doakan kami yang masih hidup agar lebih berhati-hati,
agar lebih amanah,
agar tidak lagi ada musholla yang runtuh
karena kealpaan manusia yang tergesa-gesa ingin berbuat baik.


Kami janji,
air mata kami bukan sekadar tangis,
tapi sumpah yang mengikat nurani:
kami akan menjaga ilmu, iman, dan keselamatan,
agar tidak ada lagi santri
yang pulang ke surga karena dinding yang tak kuat menahan niat baik manusia.


Selamat jalan, wahai para penjaga ayat.
Kalian tidak pergi sia-sia,
karena dari robohnya musholla itu,
lahirlah kesadaran baru —
bahwa cinta kepada Allah
harus dibangun di atas iman, ilmu, dan tanggung jawab.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment